Bangga Jadi Kasmaji

Tiga Kasmaji dan ketiga-tiganya dekan di UGM, berfoto bersama dalam kesempatan Nobel Laurate Lecture (kuliah dari pemenang hadiah Nobel) yang diselenggarakan di Graha Saba Permana (GSP) di Kampus UGM, Jumat 10 Februari 2017. Hadir dalam acara tersebut, 2 mantan pemenang hadiah Nobel memberikan kuliah umum, yakni Prof. Sheldon L. Glashow pemenang Nobel bidang fisika dan Dr. Sir Richard J. Roberts, pemenang Nobel bidang kedokteran.

Foto di atas dari ki-ka: Dekan Fak Hukum (Prof. Sigit Riyanto, Kasmaji’ 82); Dekan Fak Teknologi Pertanian (Prof. Eni Harmayani, Kasmaji 81), dan Dekan Fak Farmasi (Prof. Agung Endro Nugroho, Kasmaji 93). Sekadar informasi, Dekan FTP sebelumnya (yang digantikan Maya) juga Kasmaji, alumni angkatan 1982.

“Bagus sekali dan menginspirasi,” kata Maya mengenai materi kuliah umum tersebut. Tapi bagi kami yang tidak ikut kuliah umum, foto di ataslah yang membuat bangga dan menginspirasi. Kasmaji hebat euy...

Foto bersama para pemenang Nobel beserta istri di VVIP lounge Bandara Adisucipto sebelum departure ke Bali. Prof. Richard J. Roberts (jas hitam) penemu intron dan splicing mRNA pemenang Nobel kedokteran dan Prof. Sheldon L. Glashow penerima Nobel bidang fisika beserta para istri. Ujung kiri teman Maya, dosen FTP Prof. Endang

 

Maya dilantik jadi Dekan FTP UGM

dekan-maya

Maya (kebaya biru) di antara Rektor UGM dan para dekan baru

Sebanyak 19 dekan baru Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi dilantik. Pelantikan dilakukan secara langsung oleh Rektor UGM,  Prof.Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D., Jum’at (7/10) di Balai Senat UGM.

Rektor dalam sambutannya menyampaikan bahwa menjadi pemimpin bukanlah suatu tujuan, tetapi merupakan amanah untuk mendedikasikan diri demi kemajuan intitusi. Melakukan lompatan peradaban yang lebih baik tanpa meninggalkan persatuan dan kesatuan bangsa. Karenanya, sebagai pemimpin tidak hanya dituntut dapat memimpin dengan baik saja, namun juga memiliki keberanian untuk berubah maju.

“Menjadi pemimpin di perguruan tinggi dan dekan harus bisa maju bersama menyumbangkan kekuatan dan pikiran serta daya inovasi sebagai pelopor peradaban baru dunia,” terangnya.

Dwikorita berharap dukungan dan kerja sama para dekan baru membawa UGM menuju kemajuan. Tidak hanya itu, sekaligus memperbesar kontribusi UGM dalam upaya penyelesaian berbagai persoalan bangsa.

“Kami berharap para dekan baru ke depan bisa bekerjasama melangkah membawa UGM menuju kemajuan dan mewujudkan kejayaan nusantara,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Dwikorita menyampaikan ucapan terima kasih kepada para dekan lama yang telah mendedikasikan diri dalam memajukan UGM.

Kesembilan belas dekan baru tersebut adalah Dr. Budi S. Daryono, M.Agr.Sc., (Fakultas Biologi), Dr. Eko Suwardi, Ak., M.Sc., (Fakultas Ekonomika dan Bisnis), Prof. Dr. Agung Endro Nugroho, S.Si., M.Si., Apt., (Fakultas Farmasi), Dr. Arqom Kuswanjono (Fakultas Filsafat), dan Prof. Dr. Muh Aris Marfai, S.Si., M.Sc. (Fakultas Geografi).

Selanjutnya, Prof. Dr. Sigit Riyanto, S.H., LLM (Fakultas Hukum), Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., (Fakultas Ilmu Budaya),  Dr. Erwan Agus Purwanto, M.Si., (FISIPOL), Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Ph.D., Sp.OG (K)., (Fakultas Kedokteran), Dr. drg. Ahmad Syafif, Sp.Perio. (Fakultas Kedokteran Gigi), serta Prof. Dr. drh. Siti Sirina Oktavia Salasia (Fakultas Kedokteran Hewan).

Berikutnya, Dr. Budiadi, S.Hut., M.Agr.Sc., (Fakultas Kehutanan), Prof. Dr. Triyono, S.U., (FMIPA), Dr. Jamhari, S.P., M.P., (Fakultas Pertanian), Prof. Dr. Ali Agus, DAA., DEA., (Fakultas Peternakan), Prof. Dr. Faturochman, M.A., (Fakultas Psikologi), Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., (Fakultas Teknik), Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., (Fakultas Teknologi Pertanian), Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D., (Sekolah Vokasi). (Humas UGM/Ika)

Sumber

Foto pada waktu Sertijab Dekan FTP dari Sigit (Kasmaji 82) kepada Maya (Kasmaji 81)

Prof. Dr. Lazarus Tri Setyawanta, SH.,M.Hum.

Untuk menyeberangi lautan, tak perlu menunggu selesai membangun bahtera yang besar dan sempurna. Dengan perahu sekecil apapun harusnya bisa dan berani melawan ombak lautan.

Demikian apa yang menjadi prinsip Prof Lazarus Tri Setyawanta* (52). Baginya, untuk melangkah dalam kehidupan tak perlu sempurna terlebih dahulu. Melainkan pelan-pelan dijalani sambil belajar dan menutupi yang masih kurang. “Kalau harus menunggu siap tidak akan jalan. Dijalani saja dahulu, nanti akan ada jalannya sendiri,” katanya kepada Tribun Jateng, Senin (8/9) petang.

Guru Besar Fakultas Hukum (FH) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu memegang erat dan menerapkan prinsip itu dalam semua lini kehidupannya. Termasuk perjalanannya karirnya hingga menjadi guru besar di bidang hukum internasional.

Dia mengatakan, menjadi dosen memang menjadi impiannya sejak kecil. Dulu, ayahnya adalah seorang guru STM dan kemudian bekerja sebagai seorang penjahit. Lantaran Lazarus muda adalah putra dari seorang penjahit, kuliah di Undip adalah hal yang tak mungkin baginya saat itu.
Meski begitu, dia bisa membuktikan bahwa persoalan ekonomi bukanlah penghalang. Dia pun mampu bersaing dengan mahasiswa lainnya. Dia bahkan sering mendapat beasiswa selama kuliah.

prof-lazarus-tersisih-dari-calon-rektor-undip

“Modalnya cuma satu: mikir. Saya memang tak pintar, tetapi biasa-biasa saja. Tapi saya mau bersungguh-sungguh,” katanya.

Lelaki kelahiran Surakarta, 15 Mei 1962 itu mengatakan, semasa kuliah dia bahkan sering mencari uang saku sendiri. Jika masa liburan tiba, dia mendatangi sopir angkot jurusan Wonogiri-Solo untuk bergabung. Kebetulan dia sudah akrab dengan sopir itu, sehingga sesekali dia bisa menggantikan menyetir.

“Ya, semuanya itu harus dilakukan. Asalkan halal,” katanya.

Adapun, niatan Prof Lazarus untuk mencalonkan diri sebagai calon rektor Undip mulanya tak terpikirkan. Menurut dia, lantaran ada berbagai dorongan dari pihak lain dia akhirnya mencalonkan diri. Untuk itulah dia siap menerima berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

Saat mencalonkan diri menjadi rektor Undip, istri Prof Lazarus bahkan tak tahu. Istrinya baru tahu saat koran menyebutkan nama Prof Lazarus terdaftar sebagai bakal calon rektor Undip untuk periode 2014-2018.

“Sekarang sudah tahu. Istri sangat mendukung dan mendoakan. Saya selalu berdoa dan meminta orang-orang terdekat saya untuk mendoakan yang terbaik,” katanya.
Menurut dia, siapapun yang akan menjadi rektor Undip nantinya adalah persoalan takdir. Jika dia ditakdirkan terpilih menjadi rektor, maka Prof Lazarus akan mengupayakan banyak perubahan untuk Undip dalam rangka menyongsong Undip yang dalam waktu dekat ini menjadi perguruan tinggi negeri Berbadan Hukum (PTN-BH).

“Program besar saya nanti akan membenahi aturan sesuai PTN BH. Undip sebagai kampus riset unggul pada 2030. Undip juga akan mendirikan perusahan yang dimungkinkan dalam peraturan yang baru. Asal sesuai dengan Tridharma perguruan tinggi,” katanya.

Prof Lazarus juga sudah menyiapkan pemikiran strategis pengembangan Undip selama 25 tahun ke depan. Di antaranya, mendirikan Bank Undip/ Bank Undip Syariah, Undip TV, Universitas Alumni Undip dan gagasan-gagasan lainnya.

Sumber Tribun Jateng, 24 September 2014

* Lazarus Tri Setyawanta, Kasmaji81, eks 3-IPA-5

WhatsApp chat