Merry ikut menulis Otobiografi Ibu Mooryati

Bertepatan dengan Hari Kartini, Ibu DR. BRA. Mooryati Soedibyo (88 tahun) sebagai pendiri PT Mustika Ratu Tbk dan Yayasan Puteri Indonesia meluncurkan buku otobiografi kisah perjalanan hidupnya selama mengenyam pendidikan di Keputren Keraton Surakarta Hadiningrat, sampai ia berkeluarga dan mengambil keputusan untuk membuka usaha dengan jualan jamu hingga berdirinya PT Mustika Ratu Tbk. Buku tersebut juga mengungkap kiprah Ibu Mooryati dalam mendirikan Yayasan Puteri Indonesia dan peran politik beliau saat menjabat Wakil Ketua II MPR RI Periode 2004-2009. Semuanya terangkum dalam buku “Menerobos Tradisi Memasuki Dunia Baru – The Untold Story” yang diselenggarakan di Mutiara Ballroom, Ritz Carlton Hotel, Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Dalam penulisan otobiografi tersebut Ibu Mooryati melibatkan tiga penulis. Ketiga-tiga penulis tersebut adalah Dr. Sonny Harmadi, Dr. Wahyu Atmadji, M.Si., dan teman kita Dra. Merry Sri Widyanti Kusumaryani, M.Si.

Mooryati Soedibyo, pengusaha, pakar jamu sekaligus doktor juga politikus dan pejuang kesetaraan gender, adalah beberapa atribut yang disandangkan padanya. Mooryati Soedibyo lengser dari kehidupan keraton untuk mengabdi pada suami dan keluarga. Lalu, dari garasi rumahnya, ia mulai melakukan keahlian yang telah diwariskan padanya; tradisi kesehatan dan kecantikan Jawa. Dengan modal 25 ribu produk tradisi ini telah membawanya kepuncak sukses hingga mancanegara.

Sebagai salah satu cucu Sri Susuhunan Pakoeboewono X, Mooryati Soedibyo yang lahir di Surakarta, 5 Januari 1928 ini, dibesarkan dengan tradisi Kraton Surakarta yang kental. Ia mendapat pendidikan secara tradisional yang menekankan pada tata krama, seni tari klasik, kerawitan, membatik, ngadi salira ngadi busana, mengenal tumbuh-tumbuhan berkhasiat, meramu jamu dan kosmetika tradisional dari bahan alami, bahasa dan sastra Jawa, tembang dan langgam macapat, aksara Jawa kuna dan bidang seni lainnya. Tentu di luar tembok keraton hal-hal tersebut sangat bermanfaat. [sumber]

tribun1

tribun4

Otobiografi ini setebal 500 halaman lebih terdiri dari 48 sub judul, sangat lengkap menceritakan kisah hidup Ibu Mooryati. Itulah mengapa disebut The Untold Story.

Sebelumnya, Ibu Mooryati telah menerbitkan beberapa buku, yakni ‘Seni Ngadi Saliro’ dan ‘Ngadi Busono’, pada tahun 1978, ‘Alam Sumber Kesehatan’ pada tahun 1998, dan buku berjudul “Pengantin Indonesia” pada tahun 2000, dan “Busana Keraton Surakarta Hadiningrat” (2003), juga “Transforming Woman’s Voices“, yang berisi pengalamannya menjabat anggota lembaga legislatif selama lima tahun.

 

Profil DR. Hj. BRA. Mooryati Soedibyo,S.S, M.Hum [sumber]

  • Sejak tahun 1978 hingga 2010 menjabat sebagai Presiden Direktur Peseroan.
  • Tahun 1992 sampai sekarang menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Puteri Indonesia, Pemegang Franchise Miss Universe.
  • Tahun 1999 sampai sekarang menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Spa Indonesia (ASPI).
  • Tahun 2000 sampai sekarang menjabat sebagai Ketua Umum Cidesco Indonesia.
  • Tahun 2003 menyelesaikan Pendidikan Pasca Sarjana Program Studi Linguistik Sastra Inggris Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta.
  • Pada bulan Juni 2003 memperoleh anugerah Best of the Best Enterpreneur of the Year dari Institusi International Ernst & Young.
  • Tahun 2004-2009 menjabat sebagai Wakil Ketua MPR Republik Indonesia dan sebagai Dewan Perwakilan Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta.
  • Tahun 2007 menyelesaikan Program Doktoral Fakultas Ekonomi Jurusan Strategic Management Universitas Indonesia.
  • Beliau juga masuk sebagai urutan nomor 7 dalam daftar 99 wanita paling berpengaruh di Indonesia 2007 versi majalah Globe Asia

Gunawan, Sekjen Kongres Sungai Indonesia

gun

Jawa Timur menjadi tuan rumah penyelenggaraan Kongres Sungai Indonesia ke-2, yang secara resmi dibuka oleh Gubernur Jawa Timur di Gedung Negara Grahadi, Selasa (19/4).

Persoalan sungai di Indonesia masih menjadi masalah serius yang harus diselesaikan, baik oleh pemerintah maupun oleh elemen masyarakat yang berkepentingan terhadap sungai.

Sekretaris Jenderal Kongres Sungai Indonesia (KSI) Agus Gunawan Wibisono* mengatakan, penyelenggaraan kongres sungai di Jawa Timur ingin menyatukan semua potensi masyarakat, untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan sungai yang seringkali berjalan secara parsial dan sendiri-sendiri.

“Implementasi di lapangan, para pihak yang bertanggungjawab, atau stakeholder utama yang bertanggungjawab pengelolaan sungai itu masih bekerja sendiri-sendiri. Nah di Jawa Timur kita harapkan strategi konsolidasi ini bisa kita rumuskan bareng-bareng, lalu bagaimana langkah kita ke depan,” kata Agus Gunawan Wibisono, Sekjen Kongres Sungai Indonesia.

Kongres Sungai Indonesia yang pertama berlangsung pada Agustus 2015 lalu di Banjarnegara, Jawa Tengah, dan menghasilkan Maklumat Serayu, yang menyatakan kesadaran akan perlunya revolusi pengelolaan sungai dan kawasan daerah aliran sungai yang rusak dan tercemar. Kerusakan yang terjadi lebih disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya manfaat sungai bagi kehidupan.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan, kesadaran dan gerakan bersama seluruh elemen masyarakat diperlukan untuk mengatasi persoalan kerusakan ekosistem sungai di Indonesia.

“Muncul gerakan-gerakan luar biasa sekarang, muncul sekolah sungai, jaga kali, anak SMA pelihara, perguruan tinggi punya pengampu, dia mengampu sungai. Jadi sekarang muncul perilaku-perilaku yang orang bisa meneriaki, hei jangan buang sampah sembarangan, hei jangan membangun sembarangan, hei pelihara tanaman kita, hei itu pencemaran. Sekarang semua cerewet semua, yang berkaitan dengan sungai. Harapan kita semuanya nanti di seluruh Indonesia ini akan ada gerakan-gerakan ini, dan kemudian bisa memperbaiki kondisi sungai yang rusak. Nah yang belum rusak kita harapkan agak kita bijaksana,” kata Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah.

Kerusakan ekosistem sungai banyak disebabkan pencemaran oleh masyarakat. Banyak anggota masyarakat masih membuang sampah serta limbah secara langsung ke sungai.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengatakan, pencemaran sungai di Jawa Timur 55 persen diakibatkan oleh limbah domestik, termasuk pembuangan tinja langsung ke sungai.

“Terutama yang limbah domestik yang paling besar. Jamban ini kan besar-besaran kita bangun, jamban ini. Program yang dilakukan oleh BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Unair (Universitas Airlangga Surabaya) di pinggir selatannya Kali (sungai) Surabaya ini kan bagian yang luar biasa, sampai di Driyorejo,” jelas Gubernur Soekarwo.

Agus Gunawan menambahkan, selain peran serta masyarakat untuk bersama-sama memperbaiki ekosistem sungai, pemerintah dan aparat penegak hukum perlu terus didorong untuk menegakkan Undang-undang terhadap pelaku penyebab kerusakan sungai.

“Penegakan hukum yang berkaitan dengan misalkan penyalahgunaan sempadan sungai, digunakan untuk bangunan, ini masih banyak upaya-upaya penegakan hukum yang belum jalan dengan cukup baik. Sebenarnya itu yang salah satu yang ingin kita dorong, yang ingin kita upayakan supaya itu segera dijalankan,” kata Agus Gunawan Wibisono. [pr/ab]

*Agus Gunawan Wibisono, Kasmaji81, eks 3-IPA-3

Dikutip dari sumber

WhatsApp chat