Kerjasama Menghadapi Kesulitan

mustadiOleh Mustadihisyam

Sebuah hadits mengisahkan tiga orang pemuda pergi hendak beribadah kepada Allah. Di tengah perjalanan hujan turun sangat deras. Mereka pun berlindung dalam gua. Tiba-tiba jatuh sebuah batu besar menutup persis mulut gua. Ketiga pemuda itu pun terkurung.

Seorang dari mereka berkata, ”Demi Allah, tidak ada yang dapat menyelamatkan kita sekarang ini kecuali Allah SWT. Barangkali, ada amal paling baik yang pernah kita lakukan yang dapat kita kemukakan kepada-Nya untuk menyelamatkan kita dari musibah ini,”

Pemuda pertama pun berdo’a, ”Ya Allah, saya pernah tertarik kepada seorang wanita yang sangat cantik. Karena punya kekuasaan dan keleluasaan, lalu saya bayar wanita itu dengan harga yang dikehendakinya. Ketika kami sudah berduaan dan saya punya kesempatan untuk berbuat zina, saya ingat siksaMu, lalu saya batalkan niat buruk itu. Ya Allah, seandainya apa yang saya perbuat itu baik menurutMu, tolong bukakan pintu gua ini.” Seketika itu, batu yang menutup gua itu bergeser sedikit, tetapi mereka belum dapat keluar.

Lalu pemuda kedua mengangkat tangan, ”Ya Allah, saya pernah mempekerjakan sekelompok orang dengan upah masing-masing setengah dirham. Upah mereka saya bayar langsung setelah mereka bekerja. Tiba-tiba ada seseorang menolak mengambil upah itu karena merasa mengerjakan dua pekerjaan sekaligus. Sepeninggal orang itu, saya kembangkan uangnya yang setengah dirham itu sehingga menghasilkan banyak keuntungan. Suatu saat orang itu datang dan meminta upahnya yang setengah dirham itu. Lalu saya berikan kepadanya 10 ribu dirham, laba dari uangnya yang setengah dirham itu. Ya Allah, Engkau Maha Tahu, saya melakukan itu karena takut oleh-Mu, tolong bantu kami keluar dari gua ini.” Batu itu pun bergeser. Mulut gua terbuka lebih lebar, namun belum dapat membuat mereka keluar.

Pemuda yang ketiga pun ikut berdo’a, ”Ya Allah, kedua orang tua saya sudah sangat tua. Suatu hari saya bawakan sebotol air susu untuk keduanya, namun mereka sedang tidur lelap. Saya tidak berani membangunkan, saya tunggu sampai keduanya bangun. Ya Allah, Engkau Maha Tahu, apa yang saya perbuat itu semata-mata karena mengharap ridhaMu, tolong angkat batu ini supaya kami dapat keluar”. Akhirnya batu itu bergeser lagi, gua terbuka lebar dam mereka dapat keluar dengan selamat.

Dari kisah tersebut, kita dapat mengambil hikmah bahwa untuk dapat keluar dari kesulitan dibutuhkan kerja sama yang akurat antara berbagai elemen, baik antara pimpinan yg punya kuasa sebagaimana disimbolkan pemuda yang pertama, rekanan kerja kita sebagaimana pemuda kedua, dan karyawan biasa sebagaimana pemuda ketiga. Tanpa kerja sama yang solid dari semua pihak, kesulitan hanya akan bergeser sedikit, namun kita tidak dapat keluar dari padanya.

Kadang-kadang dalam kehidupan kita di kantor atau di rumah sering menghadapi kesulitan yang tak pernah reda, maka kerja sama semua pihak menjadi wajib adanya. Cerita hadits di atas menyadarkan kepada kita bahwa seberat atau sesulit apapun pekerjaan yang kita hadapi, kalau setiap orang mau dengan ikhlas mengerahkan kekuatan, pikiran, sesuai dengan keahliannya masing-masing dan mensinergikannya, Insyaallah sesuatu yang sesulit apapun akan menjadi lebih mudah untuk diselesaikan.

Kerja sama bukan hanya dalam bentuk riil dan materiil, tetapi yang lebih penting kerja sama semua pihak untuk selalu berbuat baik, untuk selalu merasakan kehadiran Allah SWT dalam setiap niat, tutur kata, dan amal perbuatan.

Comment (1)

  • Yan Kolibau| April 29, 2009

    Salam, terimakasih banyakuntuk Ustadz Mustadi sudah menyejukkan hati di akhir minggu ini. Sungguh bekal untuk berjuang selanjutnya. Ada lagi sebuah ceritera dalam nuansa yang sama begini:

    Di suatu ruangan pesta tuan pesta menghidangkan segala jenis makanan terenak di dunia. Para tamu yang diundang dipersyaratkan agar mereka berbudi mulia dan nurani bening. Tetapi apa mau dikata, ternyata para pejabat yang berkuasa dan terhormat itu jauh dari persyaratan tuan pesta sebab mereka berkuasa sewenang-wenang dan senantiasa berpikir untuk berbuat jahat.

    Seketika mereka memasuki ruangan pesta mereka yang berdosa mendapat kutukan, siku tangan mereka tidak dapat ditekuk, sehingga lengan mereka hanya membentuk garis lurus ketika mereka menggerakkan tangan. Tuan rumah pesta tetap mempersilakan mereka menyantap hidangan yang ada, tetapi setiap mereka tidak dapat berbuat apa-apa sebab lengan mereka tidak dapat ditekuk.

    Ada di antara mereka mencoba makan langsung dengan mulut tetapi bejana tempat mengisi makanan agak besar dan dalam sehingga mereka tidak bisa makan. setelah mencoba hingga kelelahan, tidak satupun dapat mencicipi hidangan pesta.

    Entah ada bisikan darimana, tiba-tiba seseorang ada gagasan begini “marilah setiap kita menyenduk hidangan yang ada dan menyuapkannya ke mulut teman lain agar lengan kita yang tak bisa ditekuk dapat dimanfaatkan dan semua kita dapat mengambil hidangan pesta”.

    Mereka pun melakukannya dan tidak lama berselang semua orang sudah kenyang disuap oleh rekannya yang lain. Tuan pesta puas mereka pun kenyang.

    Rekan-rekan sekalian mungkin ceritera ini dapat memberi inspirasi kepada kita betapa saling melayani itu penting dan dapat membawa keberuntungan (keselamatan) bagi kita bersama meski kita penuh dosa dan tidak layak di hadapan Tuhan.

    Semoga
    yan-Kupang

  • Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *