Istilah itu saya dapat dari suami sepupu saya yang sekarang sudah meninggal. Dulu dia pernah kerja di Astra, dengan karier yang melejit cepat dan -seperti biasanya- diiringi dengan keadaan ekonomi yang ikut meningkat. Sampai kemudian krisis moneter mendera negeri kita waktu itu, diapun ikut mengambil pensiun dini.
Kami suka ketemu secara berkala di acara arisan keluarga. Seperti biasa kita sering saling bicara, “Wah si A enak sekarang ya, sudah jadi kepala bagian, wah si B hebat sudah jadi begini begitu.” Dia bilang : “Anda sendiri juga sudah mapan benar karier mantap, rumah ada, mobil ada, dsb…” Saya bilang, “Ah nggak juga, Situ dong yang sekarang lagi banyak duit….”




