Teguh Hati Menghadapi Tantangan

Renungan Jumat oleh Mustadihisyam

” Maka bersabarlah sebagaimana kesabaran ulul-azmi dari para rasul dan janganlah memohon disegerakan (azab) bagi mereka …”  (QS 46:35).

Ayat terakhir surat al-Ahqaaf (Bukit-bukit Pasir) di atas selain berisi seruan untuk  bersabar, dan tidak memohon disegerakannya azab bagi kaum fasik,juga menegaskan agar meneladani sikap para rasul ulul-azmi, para utusan pemilik  keteguhan hati. Sebab, pada diri mereka itu terdapat banyak sifat dan sikap baik untuk dijadikan rujukan dalam menjalani hidup ini sesuai dengan fitrah kemanusiaan.

Pada saat-saat tertentu atau ketika menghadapi persoalan hidup yang berat,  kita butuhkan benar hadirnya rujukan sikap dari para tokoh berwatak yang meski  berbeda kualitasnya namun mirip persoalannya dengan kita. Dari rujukan mereka itu  kita harapkan benar adanya semacam ‘doping’ kejiwaan sehingga kita punya  landasan kuat untuk mengatasi persoalan yang kini menghadang dan menantang di  depan mata.

Continue reading “Teguh Hati Menghadapi Tantangan”

Daya Cinta Empati

diah1

Oleh : Diah Karmiyati*

.

Jangan pernah membuka pintu untuk mengetahui bagi siapakah dering bel; dering bel itu untuk anda (Donne, dalam Goleman, 1996)

.

Kalimat di atas menunjukkan hubungan yang sangat erat antara empati dan kepedulian. Kepedihan orang lain merupakan kepedihan diri sendiri. Merasakan perasaan orang lain adalah menyayangi. Sikap empatik adalah keterlibatan yang terus menerus dalam pertimbangan moral, karena dilemma moral seringkali kita hadapi. Haruskah kita menepati janji untuk membantu para korban Tsunami, atau mengikuti ajakan teman liburan ke Bali?

Continue reading “Daya Cinta Empati”

Kawulaning Gusti

mustadi1Renungan Jumat oleh Mustadihisyam

.

Ada kata-kata yang sering diucapkan orang khususnya orang Jawa, bahwa sering kali menyebut kalau dirinya sebagai “kawulaning Gusti” (hamba Allah). Sekiranya kita perhatikan, ada beberapa ciri-ciri orang yang layak disebut kawulaning Gusti. Salah satunya adalah seorang suami yang selalu berdoa kepada Tuhan:

” Rabbana hablana min aswajina, wadzuriyatina qurrata’ayun waj’alna lil muttaqina imamaa ”

Ya.. Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami ini, dari istri dan anak turun kami sebagai cahaya matahati kami (penyejuk hati kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa kepadaMu.

Doa ini mengandung arti yang sangat dalam sekali bagi seorang suami. Istri adalah segalanya dalam rumah tangga, mempunyai fungsi yang sangat luhur di hadapan suami, bukan sekedar konco sare atau kemul turu. Sehingga seorang suami yang mengaku dirinya sebagai kawulaning Gusti senantiasa tak henti-hentinya memohon kepada Tuhan semoga istri ini menjadi penyejuk hati, tamba sumpeking ati, memberikan kedamaian dalam hidup ini.

Continue reading “Kawulaning Gusti”

WhatsApp chat