Topeng Monyet

didietKontributor: Didiet Priatmadji

.

Kemarin pulang kantor sdh jam 19.30, pas menjelang Pancoran dari arah Semanggi, ada tukang topeng monyet di pinggir kanan jalan, tepatnya di kolong jembatan layang dekat pintu masuk tol menjelang Pancoran.  Selang beberapa meter ada lagi, lalu ada lagi, total ada 3 monyet yang sempat kuperhatikan (gak bisa terlalu perhatikan monyet di pinggir jalan, karena konsentrasi harus ke jalan yang cukup padet dengan mobil dan motor).

Topeng monyet atau ledhek kethek di Jateng, atau tanjak (tandhak) bedhes di Jawa Timur, semacam sirkus tradisional kelas rakyat dengan memanfaatkan monyet sebagai pemain utama, kadang ditambah anjing kadang juga juga ular. Musiknya cukup bedug kecil ada yang plus “centhe”.  Para pemain sirkus & alat musik cukup diangkut dengan pikulan, kecuali anjing, disuruh jalan sendiri (kasian deh, lu!).  Kalau di kampung-kampung topmon (topeng monyet) selalu digemari anak-anak (dan juga orang dewasa) karena tingkah monyet yang menirukan manusia sungguh menggelikan (dan ternyata ulah manusia menirukan tingkah monyet juga tak kalah lucu – mis Tukul..).

Continue reading “Topeng Monyet”

Selamat Natal Menurut Al-Qur’an

mustadi1Oleh: Mustadihisyam

.

Sakit perut menjelang persalinan, memaksa Maryam bersandar ke pohon kurma. Ingin rasanya beliau mati, bahkan tidak pernah hidup sama sekali. Tetapi Malaikat Jibril datang menghibur: “Ada anak sungai di bawahmu, goyangkan pangkal pohon kurma ke arahmu, makan, minum dan senangkan hatimu. Kalau ada yang datang katakan: ‘Aku bernazar tidak bicara.'”

“Hai Maryam, engkau melakukan yang amat buruk. Ayahmu bukan penjahat, ibumu pun bukan penzina,” demikian kecaman kaumnya, ketika melihat bayi di gendongannya. Tetapi Maryam terdiam. Beliau hanya menunjuk bayinya. Dan ketika itu bercakaplah sang bayi menjelaskan jati dirinya sebagai hamba Allah yang diberi Al-Kitab, shalat, berzakat serta mengabdi kepada ibunya. Kemudian sang bayi berdoa: “Salam sejahtera (semoga) dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari ketika aku dibangkitkan hidup kembali.”

Continue reading “Selamat Natal Menurut Al-Qur’an”

Daeng Soetigna, Bapak Angklung Indonesia

didiet2Kiriman : Didiet Priatmadji

Bagi yang pernah menyaksikan konser musik Yanni tentu tahu betapa megah, agung dan fenomenalnya “Santorini”.  Namun, bagaimana bila nomor klasik “Santorini” dibawakan dengan instrumen tradisional Sunda bernama Angklung?  Ya, bahkan nomor-nomor klasik seperti “Li Biamo Ne Lieti Calici from La Traviatta” karya Giuseppe Verdi, “Blue Danube Waltz” (Johan Strauss), “Air for G String”(Johan Sebastian Bach), dsb, dapat dimainkan dengan indahnya menggunakan alat musik Angklung, disamping tentu saja karya-karya musik asli Indonesia seperti “Jali-jali”, “Bengawan Solo” atau “Es Lilin”.

Untuk itu kita wajib berterima kasih kepada almarhum Daeng Soetigna, karena berkat kerja keras dan usahanya maka alat musik angklung yang tadinya hanya sebagai alat musik tradisional yang hanya memiliki beberapa tangga nada yang dibunyikan secara monoton, dibuat sedemikian rupa menjadi set angklung dengan nada-nada diatonis-kromatis sehingga mampu memainkan musik “barat”.

Continue reading “Daeng Soetigna, Bapak Angklung Indonesia”

WhatsApp chat