Punakawan

Oleh  Mustadihisyam

.

TOKOH punakawan yang terdiri atas Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong, adalah tokoh-tokoh yang selalu ditunggu-tunggu dalam setiap pergelaran wayang di Jawa. Sebenarnya, dalam cerita wayang yang asli dari India tidak ada tokoh punakawan. Punakawan hanyalah “bahasa halus” dan “bahasa komunikatif” yang diciptakan oleh para sunan/wali di tanah Jawa. Para tokoh punakawan dibuat sedemikian rupa mendekati kondisi masyarakat Jawa yang beraneka ragam. Para Wali dalam penyebaran agama Islam selalu melihat kondisi masyarakat–baik dari adat istiadat maupun dari budaya yang berkembang saat itu.

Wayang merupakan suatu media efektif untuk menyampaikan misi ini. Namun, para wali memandang bahwa cerita wayang yang diusung dari negara asalnya, India, ternyata banyak yang berbau Hindu, animisme, dan dinamisme. Mereka juga melihat pakem wayang India tersebut kurang komunikatif. Masyarakat hanya diminta duduk diam melihat sang dalang memainkan lakonnya. Tentu tidak semua orang mau untuk menikmati adegan demi adegan semacam ini semalam suntuk. Maka, para wali menciptakan suatu tokoh yang sekiranya mampu berkomunikasi dengan penonton, lebih fleksibel, mampu menampung aspirasi penonton, lucu, dan yang terpenting, dalam memainkan para tokoh punakawan ini sang dalang dapat lebih bebas menyampaikan misinya karena tidak harus terlalu terikat pada pakem.

Tokoh punakawan dimainkan dalam sesi gara-gara. Jika diperhatikan secara seksama ada kemiripan dalam setiap pertunjukan wayang antara satu lakon dan lakon yang lain. Pada setiap permulaan permainan wayang biasanya tidak ada adegan bunuh-membunuh antara tokoh-tokohnya hingga lakon gara-gara dimainkan. Mengapa? Dalam falsafah orang Jawa, hal ini diartikan bahwa janganlah emosi kita diperturutkan dalam mengatasi setiap masalah. Lakukanlah semuanya dengan tenang, tanpa pertumpahan darah, dan utamakan musyawarah. Cermati dulu masalah yang ada, jangan mengambil kesimpulan sebelum mengetahui masalahnya.

Ketika lakon gara-gara selesai dimainkan, barulah ada adegan yang menggambarkan peperangan dan pertumpahan darah. Itu dapat diartikan bahwa jika musyawarah tidak dapat dilakukan maka ada cara lain yang dapat ditempuh dalam menegakkan kebenaran. Dalam Islam pun, setiap dakwah yang dilakukan harus menggunakan tahap-tahap yang tidak berbeda dengan tahap-tahap yang ada dalam dunia perwayangan ini. Dalam mengajak pada kebenaran/mencegah kemungkaran, para pendakwah awalnya harus memberi peringatan (Bi Lisani) dengan baik; jika tidak mau, beri peringatan dengan keras; jika tidak mau, kita dapat menggunakan kemampuan maksimal kita dalam mengupayakan penegakan kebenaran (termasuk Jihad, mungkin). Nah, lakon gara-gara jelas sekali menggambarkan atau membuka semua kesalahan, dari yang samar-samar kelihatan jelas.

Ini merupakan suatu hasil dari sebuah doa yang terkenal Allahuma arinal Haqa-Haqa warzuknat tibaa wa’arinal bathila-bathila warzuknat tinaba. [Ya Allah tunjukilah yang benar kelihatan benar dan berilah kepadaku kekuatan untuk menjalankannya, dan tunjukilah yang salah kelihatan salah dan berilah kekuatan kepadaku untuk menghindarinya. Semua menjadi jelas mana yang benar dan yang salah. Hingga akhir dari cerita wayang, para tokohnya yang berada di jalur putih akan memenangkan pertempuran melawan kejahatan, setelah benar-benar mengetahui mana jalan yang benar dan mengerti masalahnya.

.

Makna nama tokoh

Apa makna yang terkandung dalam setiap tokoh punakawan :

  • Semar: aslinya tokoh ini berasal dari bahasa arab Ismar. Dalam lidah Jawa kata Is–biasanya dibaca Se. Ambillah contoh Istambul menjadi Setambul. Ismar berarti paku. Tokoh ini dijadikan pengokoh (paku) terhadap semua kebenaran yang ada atau sebagai advisor dalam mencari kebenaran terhadap segala masalah. Paku di sini dapat juga difungsikan sebagai pedoman hidup, pengokoh hidup manusia. Apa pengokoh hidup manusia itu? Tidak lain adalah agama. Sehingga, Semar bukanlah tokoh yang harus dipuja, tapi penciptaan Semar hanyalah penciptaan simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama.
  • Nala Gareng: juga diadaptasi dari kata Arab Naala Qariin. Dalam pengucapan lidah Jawa pula kata Naala Qariin menjadi Nala Gareng. Kata Naala Qariin, artinya memperoleh banyak teman, ini sesuai dengan dakwah para wali sebagai juru dakwah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya teman (umat) untuk kembali ke jalan Allah SWT dengan sikap arif dan harapan yang baik.
  • Petruk: diadaptasi dari kata Fatruk. Kata ini merupakan kata pangkal dari sebuah wejangan Tasawuf yang berbunyi: Fat-ruk kulla maa siwallahi, yang artinya: tinggalkan semua apa pun selain Allah. Wejangan tersebut kemudian menjadi watak para wali dan mubalig pada waktu itu. Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong artinya kantong yang berlobang. Maknanya bahwa setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Allah SWT secara ikhlas, tanpa pamrih dan ikhlas, seperti bolongnya kantong yang tanpa penghalang.
  • Bagong: berasal dari kata Baghaa yang berarti berontak. Yaitu berontak terhadap kebatilan dan keangkaramurkaan. Dalam versi lain kata Bagong berasal dari Baqa’ yang berarti kekal atau langgeng, artinya semua manusia hanya akan hidup kekal setelah di akhirat nanti. Dunia hanya diibaratkan mampir ngombe (sekadar mampir untuk minum).

Para tokoh punakawan juga berfungsi sebagai pamomong (pengasuh) untuk tokoh wayang lainnya. Pada prinsipnya setiap manusia butuh yang namanya pamomong, mengingat lemahnya manusia. Pamomong dapat diartikan pula sebagai pelindung. Tiap manusia hendaknya selalu  meminta lindungan kepada Allah SWT, sebagai sikap introspeksi terhadap segala kelemahan dalam dirinya. Inilah falsafah sikap pamomong yang digambarkan oleh para tokoh punakawan.

Alangkah disayangkan jika beberapa tokoh punakawan seperti Semar dipuja-puji layaknya dewa oleh sebahagian penganut aliran kepercayaan. Padahal jelas sekali semua tokoh yang ada hanyalah merupakan ciptaan para wali untuk menyimbolkan suatu keadaan dalam misi dakwah mereka menyebarkan Islam. Sebagai contoh Semar diceritakan sebagai seorang dewa (bathara Ismaya kakak bathara Guru) yang turun ke bumi dengan menjelma menjadi manusia biasa untuk menjalankan sebuah misi suci. Hal ini sebenarnya cukup tepat untuk menggambarkan cara Allah SWT menurunkan Islam pada umat manusia dengan tidak menghadirkan sosok Allah langsung sebagai Tuhan di muka bumi. Niscaya semua manusia akan menjadi Islam, jika Allah langsung menyebarkan Islam di bumi. Lalu di manakah letak kemerdekaan manusia, jika demikian?

Manusia dibiarkan memilih semua ajaran yang ada. Mengingat, manusia diberikan kebebasan untuk menentukan nasibnya kelak di akhirat, sesuai dengan pilihannya di dunia. Maka, sosok Semar sebagai dewa pun harus dijelmakan sebagai sosok manusia dahulu, untuk tetap menjaga kodrat manusia sebagai makhluk yang bebas memilih. Lihatlah pula kata Semar Badranaya. Badra berarti kebahagiaan dan naya berarti kebijaksanaan. Untuk menuju kebahagiaan, yaitu dengan cara memimpin rakyat secara bijaksana dan menggiringnya untuk beribadah kepada Allah SWT.

Negara akan stabil jika Semar bersemayam di pertapaan Kandang Penyu. Maknanya adalah untuk mengadakan penyuwunan (penyu-) atau permohonan kehadiran Allah SWT. Jelas sekali misi dakwah yang terkandung di sini, yang diceritakan dan diartikan sendiri maknanya oleh sang pembuat yaitu para wali.

.

Ahli Surga

mustadihisyam, 18/09/08

.
Saat Rasulullah saw bersama para sahabatnya, beliau berkata, ”Sebentar lagi akan lewat di hadapan kalian seorang ahli surga.” Tidak lama setelah itu lewatlah seorang dari Anshar. Keesokan harinya Rasululah saw berkata seperti yang beliau katakan sehari sebelumnya, begitu pula di hari ketiga.

Pernyataan Rasulullah itu membuat penasaran Abdullah bin Amru. Ia ingin mengetahui amalan apa yang membuat orang dari Anshar itu menjadi ahli surga. Akhirnya ia mengikuti orang itu dan berkata kepadanya, ”Wahai saudaraku, ketahuilah antara aku dan ayahku terjadi perselisihan dan aku bersumpah tidak akan masuk rumahnya selama tiga hari. Bagaimana jika sementara tiga hari ini aku tinggal di rumahmu?” Orang itu pun menjawab, ”Mari, dengan senang hati.”

Selama tiga hari ia tinggal di sana. Namun, ia tidak menjumpai orang itu melaksanakan shalat tahajud, atau amalan istimewa lainnya. Amalannya sehari-hari seperti kebanyakan orang. Namun, ia tidak mendengar orang itu berbicara kecuali perkataan yang baik.

Setelah malam ketiga berlalu, Abdullah bin Amru semakin heran karena tidak menemui amalan istimewa dari orang itu. Sehingga, esok harinya, saat hendak permisi ia berkata kepadanya, ”Wahai hamba Allah, ketahuilah, sebenarnya antara aku dan ayahku tidak terjadi perselisihan dan aku pun tidak berjanji untuk tidak menemuinya selama tiga hari. Aku ingin tinggal di rumahmu karena aku mendengar nabi saw pernah berkata selama tiga hari bahwa akan muncul di antara kami seorang ahli surga.

Dan selama itu pula yang muncul di hadapan kami adalah kamu. Karena itu aku ingin tahu lebih dekat apa amalan yang kamu lakukan sehingga aku bisa mengikutimu. Namun, terus terang, selama tiga hari aku bersamamu aku tidak melihat engkau melakukan amalan yang istimewa. Sebenarnya apa rahasia amalanmu yang membuat Rasulullah mengatakan bahwa kau ahli surga?”

Orang itu berkata, ”Ya, benar, amalanku adalah seperti yang kamu saksikan.” Tetapi, ketika Abdullah bin Amru pamit untuk pergi, ia memanggilnya dan berkata, ”Amalanku adalah seperti yang kamu lihat, namun aku tidak merasa iri, dengki kepada seorang pun atas kebaikan atau kenikmatan yang didapatkannya dari Allah SWT.” Mendengar itu, Abdullah bin Amru berkata, ”Inilah yang dapat kau lakukan dan yang belum dapat kami realisasikan.”

Iri dan dengki adalah penyakit jiwa yang sering terjadi pada manusia, dimana manusia tidak bisa mengendalikan hawa nafsu yang bersifat batiniah. Kenapa tidak bisa mengendalikan hawanafsu? Tidak lain karena Jiwa/nafs manusia kondisi lemah, sakit bahkan lumpuh, sebab tidak pernah menerima asupan makanan yang dipancarankan dari kesucian Ruhul Kudus yang bersemayam dalam kalbu manusia. Energi Ilahi yang dipancarkan oleh Ruh manusia tidak mampu menembus kalbu karena kalbu penuh dengan kotoran, sehingga cahaya Ilahi tidak sampai dalam Jiwa manusia.

Cara yang paling mudah adalah bersihkan Kalbu itu, supaya dapat di tembus oleh pancaran Ilahi yang ada dalam Ruh manusia. Dan cara yang paling mudah itu salah satunya adalah Puasa. Puasa dengan Imanah dan wahtisaban ( penuh keyakinan dan keichlasan ) akan membersihkan kerak-kerak yang menempel pada kalbu. Kalau Kalbu bersih maka Ruhul Kuddus akan memancarkan energi ke dalam jiwa, sehingga sehatlah jiwa itu. Kalau Jiwa sehat maka hawanafsu akan dapat terkendali, itulah yang di sebut jiwa yang Muttaqin.

Ayo mari kita sama-sama bangunkan Jiwa di bulan Ramadhan ini !

.

Harga segelas air kotor

Iskandar Zulkarnain adalah seorang raja besar. Pada hari-hari tertentu beliau belajar thasauf kepada seorang guru spiritualnya (seorang Ulama). Di tengah-tengah asyiknya belajar, beliau merasa haus sekali, maka dipanggilnya pengawal supaya diambilkan satu gelas air putih untuk menghilangkan dahaganya. Mendengar permintaan  Raja itu, sang guru lalu bertanya kepada  raja :

“Maafkan hamba baginda, sebelum saya lanjutkan pelajaran ini, izinkanlah saya ingin bertanya kepada baginda Raja.”
“Oh… ya silahkan,” jawab Raja.
“Begini baginda, saya tadi mendengar kalau baginda minta diambilkan segelas air minim karena sangat  haus sekali?”
“Ya… betul mengapa tiba-tiba saya jadi haus sekali ketika sedang engkau ajari aku?” jawab Raja.
“Pertanyaan saya pendek saja baginda! Misalkan segelas air minum yang engkau inginkan itu tidak ada di kerajaan ini, apa yang baginda lakukan? ”
“Saya akan memerintahkan pasukan saya untuk mencari air minum itu di seluruh kota ini,” jawab Raja.
“Kalau sekiranya tidak didapatkan air minum di seluruh kota ini, apa yang baginda lakukan?”
“Kalau seluruh kota tidak didapatkan, saya akan perintahkan para prajuritku untuk menemukan di negeri ini atau mungkin di pelosok dunia ini, berapapun harganya akan saya bayar,” jawab Raja.
“Misalkan air minum itu sudah Baginda dapatkan dengan susah payah dan mahal, tentunya Baginda akan segera meminumnya karena haus?”
“Oh…. betul saya akan langsung meminumnya karena haus,” Jawab Raja.
“Setelah Baginda minum, apakah Baginda sudah merasa puas?”
“Ya… jelas!” Jawab Raja.
“Air yang Baginda minum itu tentunya beberapa jam kemudian akan dikeluarkan lewat air seni yang banyaknya  tidak lebih dari segelas air minum! Bagaimanakah kalau sekiranya air kotor itu tidak bisa keluar dari tubuh baginda , Apa yang akan engkau perbuat?”
“Wow….. betapa sakitnya itu, dan akan saya panggil dokter untuk mengeluarkan air seni itu,” jawab Raja.
“Seandainya dokter di Kerajaan atau di kota ini tidak bisa mengeluarkan?”
“Akan aku suruh para prajuritku untuk mencari dokter spesialis yang paling pandai di negeri ini untuk mengobatiku,” jawab Raja
“Kalau di negeri ini tidak ada dokter yang mampu mengeluarkan air kotor itu, apa yang Baginda lakukan?”
“Saya akan kerahkan pasukan saya untuk mencari dokter walau pun di ujung dunia pun dan berapa pun biaya akan saya bayar kalau perlu seluruh Kerajaan dan Harta benda yang aku miliki akan saya jual untuk mengeluarkan air kotor ini,”  Jawab Raja.
“Ketahuilah Baginda bahwa harga segelas air kotor yang keluar dari tubuh Baginda ternyata lebih mahal dari harga Kerajaan dan Kekayaan Baginda miliki di negeri, Allah Maha Besar !!
.
Mendengar jawaban itu sang Raja sangat haru, dirinya merasa kecil seperti debu diatas gurun pasir. dan lantas beliau menjawab : “Maha Besar Allah , Engkau Maha Pengasih dan Maha Penyayang, begitu besar Nikmat dan RacmatMu yang Engkau limpahkan kepada hambaMu yang hina ini, Subhanallaah!”

Wassalam!

WhatsApp chat